Jangan Dramatisir Masalah

Ini tulisan pertama di tahun 2016, moga gak terlalu basi untuk mengawali tulisan di tahun baru (yg sudah lewat 4bln). Nah mumpung mood nulis yg ntah gimana prosesnya sedang hinggap di jari jari, di otak, dan di handphone. Iya iya saya nulis ini di handphone. Jadi bisa dibayangin gimana ‘kriting’nya jempol saya yang gigantis ini nulis di touchpad HP.

Well…teman -yg dengan ajaib baca tulisan diblog yg ngga terkenal ini-, lewat tulisan ini saya mau berbagi pembelajaran bahwa kadang pikiran kita suka offside, sok tahu duluan dengan asumsi asumsi yg belum tentu bener, dan terkadang lebay dalam menghadapi masalah. Sesuai judulnya, jangan dramatisir masalah.

Baca lebih lanjut

Insyafi salah, dan syukuri hidayah

Hari ini kamis (26/11), lewat tausyiah yang saya dengarkan dr streaming radio mqfm bandung, aa gym memberikan satu pengingat yg somehow terasa njleeebbb bagi saya

Tak ada yg benar benar baru yg beliau ungkapkan di siaran malam ini. Beliau berpesan agar kita sering sering bertaubat atas segala kesalahan yg telah kita lakukan, dan mensyukuri nikmat hidayah yg Alloh berikan. Beliau berpesan, jangan dikira org yg berbuat kesalahan dan tak mau menginsyafinya tidak Alloh ‘balas’ di dunia. Bisa jadi Alloh membalasnya dengan cara yg berbeda, tidak langsung ditimpa siksa. Salah satu balasan dr Alloh dg cabut kenikmatan beribadah dr dirinya. Misalnya selepas solat, saat mustajabnya doa tp tak digunakan untuk berzikir, berdoa. Terus terpalingkan dr mengingat Alloh. Ketika disebelahnya sibuk baca quran, dia malah sibuk kepoin akun instagram orang lain. Ketika disekitarnya sibuk murojaah hafalan quran, dia malah sibuk murojaah koran. Alloh cabut kenikmatan belajar di majelis majelis ilmu. Baca lebih lanjut

Kekonyolan kemarin…

Ah finally bisa nulis lagi diblog ini. Tulisan ini curhat ala ala Abegeh labil, jadi yah kalo mau baca sih baca aja. oia tulisan ini sepertinya gak akan lama berada di blog ini karena pada saatnya nanti akan saya hapus itupun kalau inget…hehehehe.

Tulisan hari ini tentang kekonyolan yang terjadi kemarin (25/10). Ceritanya begini, di kantor saya ada program pengembangan karyawan yang memberikan kesempatan bagi karyawan ‘terpilih dan dipilih’ untuk ikut semacam short course, AYIM namanya, kependekan dari Asean Young Insurance Manager School. AYIM ini event yang diadakan tiap tahun oleh Singapore collage of insurance. Nah singkat cerita saya termasuk diantara mereka yang ‘beruntung’ untuk ikut AYIM ini. Event ke-6 ini diadakan di Phenompenh Cambodia, dan tiap tahun vanue akan berbeda beda bergantung negara mana yang jadi tuan rumah. Anyway saya gak akan bahas tentang AYIM ini lebih lanjut, saya cuman pengen cerita lebih ke kekonyolan yang terjadi saat keberangkatan saya ke event ini kemarin.

Jadi ceritanya kami peserta AYIM yang berjumlah 6 orang dari perusahaan kami ini harus kumpul di bandara Soetta jam 09.00 karena kita akan flight ke Kamboja jam 11.00 via changi dulu. Keadaan sangat normal, kami seperti biasa ikut antrian masuk untuk dapat boarding pass. Nah untuk dpt boarding pass inikan kami harus tuker tiket elektronik kami dan didata passport masing masing. Dan kekonyolan itupun terjadi. Passport saya tidak bisa dipakai untuk ke Kamboja, karena you know what masa berlaku passport saya kurang dari 6 bulan dimana tidak sesuai dengan regulasi yang udah ditetapkan oleh pemerintah kamboja. Dueerrr….lemes coy…lemes selemes lemesnya (lebay…hehe) pas si mba-mba pramugari bilang, “mas imam tidak bisa berangkat…”

Baca lebih lanjut

Don’t judge a book by its cover

Kadang kita meremehkan seseorang krn profesinya pdhal kita tak pernah tahu siapa dia, bagaimana latar belakangnya. Tp nalar sering bergerak terlampau cepat, hasilnya adalah prejudice. Menghakimi tanpa mengerti. Menilai tanpa memahami.

Sore ini saya pulang kantor dr kawasan pondok indah dengan menumpang taxi biru.
Seperti biasa, untuk melepas penat dan menemani perjalanan terkadang saya sering mengajak supirnya ngobrol. Kita bisa ngobrol banyak hal, tentang harga-harga yg naik, kondisi jalanan yg macet dan ruas jalan yg rusak, atau bahkan ngobrolin tentang politik dan pemerintahan.

Kali ini pun saya melakukan hal yg sama. Hanya saja ada yg tak biasa. Dari tutur bahasa, wawasan yg dimiliki, bapak supir taxi ini sepertinya bukan orang sembarangan. Bapak supir taxi ini nampak lain drpd supir taxi yg lain.

Usut punya usut ternyata bapak supir taxi yg nganter saya pulang ini seorang ahli chemical engineering, yg menangani pencampuran warna untuk rubber dan plastic. Dia berpendidikan cukup tinggi (s1), dan menjadi supir taxi krn keinginannya untuk mengisi waktu luangnya selama menunggu waktu untuk mulai bekerja kembali di perusahaan rubber di sekitar meruya. Setelah sebelumnya terpaksa berhenti dari tempat kerja lamanya.

Bapak ini bilang, jadi supir taxi tak pernah terbayang sebelumnya, tp inilah bagian hidup yg mesti dia jalani. Selama pekerjaannya baik, dia akan lakukan asal bisa menghidupi keluarga di rumah.

Well this is life, sometimes its awful, suffer, and unpredictable. Sometimes life hit you in the head with a brick. But don’t lose your faith. and Sometimes life give you an exquisite fate. So don’t forget to grateful.

Hari ini saya belajar banyak, bahwa jangan memandang seseorang dr penampilan.

Fate is awful, and fate is awesome.

Sometimes Fate puts us into a dilemma and it also drives us into a corner, where we can’t do anything.
Fate pushes us to the edge of a cliff and makes it impossible for us to make a move.
Like that, fate is awful.

The unpredictable timing is the reason why fate is awesome.
There are times we feel like miraculous coincidence,and a great timing.
Like that, fate is awesome.

In the end, fate is about decisions.
Sometimes life hit you in the head with a brick. Don’t lose faith.
and Sometimes life give you an exquisite fate. Don’t forget to grateful.

Now we have to make a decision.

“The 10,000-Hour Principle “

For so many who enter a field of study to have results, the hours needed to succeed in their field, is ten thousand hours. They say, The ten-thousand-hour principle.

Mozart, Beatles, Steve Jobs.
Their success was not due to prodigious talent or good fortune but due to their tireless hard work and suffering.

Perhaps that applies to work, relationships, and love.
To finish with achievement instead of waiting for good fortune or talent, one should put in endless efforts and must go through hardships.