Sejenak bicara tentang hari tua

Tua adalah jenak waktu yang pasti terlewati dalam episode kehidupan setiap manusia. Di sini, mari kita sejenak coba renungkan lagi. bicara soal keadaan yang akan kita lewati, soal rasa sepi yang kadang menerpa mereka yang beranjak tua. Berbicara tentang diri kita yang setiap saat semakin menua cepat atau lambat. karena tua itu pasti dan bukan pilihan.

Karena tua itu pasti maka sunatullah kita juga niscaya akan menjadi tua. Tubuh kita yang tegap saat ini beberapa waktu lagi akan semakin renta. Ketampanan dan kecantikan kita saat ini beberapa masa ke depan akan berhias keriput dan ompongnya gigi. Saat ini kita masih bisa bercengkrama dengan teman – teman se- usia, bercanda tawa dan lupa saatnya nanti ketika kita tua mungkin kita akan merasakan kesepian yang menggila. Bukan karena tak ada orang yang mau bercengkrama lagi dengan kita, bukan pula karena tak ada orang yang menanggapi setiap candaan dan gurauan kita. Tapi karena generasi telah berbeda, kita saatnya nanti akan menghuni jaman yang tak serupa saat ini, mengalami perubahan – perubahan budaya yang tak sama.

Kondisi seperti ini seringkali menghinggapi mereka yang telah lanjut usia. Kondisi seperti ini pula seringkali mewariskan rasa sepi di kehidupan mereka yang sudah tua. Bukan karena mereka ditinggalkan tapi karena ada hal yang tidak dipahami oleh mereka yang  hidup di sekitarnya, bahkan mungkin termasuk anak mereka sendiri.

Dan bisa jadi perasaan ini sekarang sedang dirasakan oleh orang tua kita. Mereka merasakan kesepian yang sama bukan karena ditinggal anaknya yang pergi merantau, mencari ilmu ataupun bekerja tapi lebih karena rasa sepi dan rindu bercampur menjadi satu kesatuan rasa yang mungkin tak mereka pahami sepenuhnya. Mereka rindu untuk ‘membelai’ mesra anak yang mereka sayangi itu. Mereka rindu mendengarkan suara ‘nyanyian’ anak yang mereka cintai. Mereka terus memberikan ‘cinta’ yang mereka miliki kepada anaknya. Mereka terus merindu dalam sepi hidupnya, Tapi sang anak tak pernah menyadari hal itu. Ia begitu larut dengan kehidupannya sendiri.

Sahabat itu mungkin kondisi yang akan kita lewati nanti. Sekali lagi mari merenungkan diri kita, mari berbicara tentang masa depan. mempersiapkan hari tua kita dengan semua konsekuensi yang ada.

One thought on “Sejenak bicara tentang hari tua

  1. chras 27 Agustus 2010 / 11:17 PM

    halo teman, ya kita sebagai manusia dikasih Allah usia untuk mencari bekal kelak di hari kemudian.
    oya konfirm ane ye di FB, trus kita tukeran link ye,,,
    sukron…
    http://ayodownloadgratis.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s