Harga Sebuah Keputusan

Ini lanjutan dari seri curhat saya…hehe bukan maksud apa-apa, yang saya harapkan dari kisah saya ini agar sahabat semua dapat mengambil pelajaran,hikmah,danmanfaat baik yang tersirat ataupun tersurat dari tulisan saya. Kan Tag-line blog ini ‘look beyond what u see’, so enjoys.

Setelah Putus asa karena gagal di terima di ITB, atas saran dari orang tua saya memutuskan untuk mengikuti ujian masuk universitas pajajaran. Dan saran dari mereka pula, saya memilih jurusan matematika unpad. Sebenarnya secara psikis saya merasa belum siap untuk kuliah, mungkin bayangan hancurnya cita – cita kuliah ITB seakan terus memasung pikiran. membuat saya tidak bisa ‘ikhlas’ menerima kegagalan dan berimbas pada kehilangan gairah untuk hidup. Niatan orang tua saya baik sebenarnya, mereka ingin saya bisa cepat melupakan kegagalan itu. mungkin dengan banyaknya aktivitas kuliah dengan lingkungan dan teman – teman baru di Unpad nantinya,saya bisa mudah menerima kenyataan ini, begitu pikir mereka.

Alhasil masuk lah saya ke salah satu universitas negeri terkenal di Bandung ini. Saya masih ingat hari saya melakukan pendaftaran ulang di Universitas ini. Hari itu hari senin, sekitar pertengahan bulan agustus 2005. Saya sebagai mana mahasiswa yang lain yang akan melakukan daftar ulang mengantri di depan aula Graha Sanusi Hardjadinata unpad. berbaris rapih dan menenteng map yang berisi perlengkapan. saya mulai datang dari jam 6 pagi (sebagai catatan karena rumah saya bandung coret jadi butuh waktu 1,5 jam buat nyampe ke tempat ini dengan angkot) dengan ‘setia’ menunggu pemanggilan nomor urut pendaftaran. Sebenarnya saat itu pun saya masih setengah hati, masih aras-arasan alias ogah – ogahan untuk kuliah di sini, tapi ya sudah lah toh daripada mengecewakan orang tua lebih baik saya menuruti keinginan mereka sembari menata hati untuk bisa ikhlas menerima kenyataan. Saat menunggu di antrian itu, tak dinyana saya bertemu dengan banyak sahabat saya yang ternyata daftar ulang barengan. mereka bercerita ada yang lulus di kedokteran, psikologi, farmasi, komunikasi, dll. Mata mereka berbinar menyiratkan kegembiraan dan kebanggaan yang mereka rasakan. berbeda dengan saya tentunya. di tengah perbincangan sambil membetulkan kacamata saya yang melorot, saya mendengar seorang sahabat ‘nyeletuk’ sambil tertawa, katanya bukankah saya dulu mau ke ITB tapi kok ke unpad – unpad juga. Diiringi gelak tawa dari sahabat yang lain, saya hanya bisa tersenyum kecut. rasanya sakit sekali, luka yang belum mengering itu terbuka lagi bahkan lebih parah. ingin rasanya saya mengambil botol saos dan menjejalkan ke mulutnya (sadis amat…hehehe ini hiperbola loh ya ^^V). Saya pun hanya bisa menjawab dengan suara yang nyaris tak terdengar,’mungkin ini takdirnya kali’.

Sebagaimana umumnya awal masuk kuliah, masa orientasi/ospek (baca penyiksaan) menjadi bagian yang harus saya ikuti. tidak ada yang istimewa dari ospek ini, selain dari sini saya awal mengenal seperti apa Tarbiyah. Yah di saat di unpad ini saya kembali ‘tersadarkan’ dari mimpi panjang.  Seperti halnya masa ospek, pagi – pagi ada mentoring jama’i sebenarnya saya tidak terlalu asing dengan mentoring ini karena toh semenjak SMA saya juga sudah ikut mentoring di salman ITB dengan kakak  Karisma. Namun energi yang dirasakan saat itu sungguh berbeda, tiap kata – kata dari pementor saat itu begitu mengena dalam hati. ‘menampar’ saya dengan telak. Saya merasa sangat bersalah, bersalah pada orang tua saya karena membuat mereka ikut kesusahan karena ego saya, bersalah pada diri saya, dan terlebih bersalah pada Allah ta’ala yang sempat saya tuding ‘tidak adil’. Sungguh Allah masih saya dengan saya, buktinya Allah masih memberi saya hidup hingga hari itu. Penyesalan itu datang begitu bertubi, rasanya hati ini sakit sekali. Hingga akhirnya saya terbenam dalam sebuah sujud yang panjang, ditengah  isak tangis  dan sebuah permohonan yang dalam “ ya4w1, hamba ingin kembali…, hamba ingin mengenalMU, hamba ingin merasakan cintaMU”. setelah sujud panjang dan isak tangis yang dalam, saya bertekad untuk berubah.

dari sini saya mulai mengenal FKDF (forum komunikasi dakwah fakultas), dari saat itu saya mulai menyukai kembali hadir di majelis – majelis ilmu. Sayapun kembali aktif di Halaqah yang sempat saya tinggalakan. saya mulai membuka hati saya kembali, untuk lebih tabah menerima keadaan saya saat itu. Selama saya kuliah di unpad, ini nilai – nilai akademik pun bisa dibilang salah satu terbaik di jurusan saya. Saya mulai ikut berbagai organisasi, mulai dari BEM, DKM Nurul ilmy.

Saya mulai berubah dari seorang laki – laki pemurung menjadi seorang laki – laki yang kembali ceria. Karena sesungguhnya saya termasuk tipe orang sanguinis yang ceria, bukan melankolis yang menye-menye. selama proses transisi ini saya begitu menikmati sekali. aktifitas harian saya begitu penuh dengan kegiatan – kegiatan, mulai dari kuliah, BEM, DKM dan juga proyek masa depan saya bersama alumni yang lain di DKM (mungkin di SMA yang lain dikenal dengan rohis) sekolah.

Pada saat itu, memang di sekolah saya belum ada lembaga mentoring khusus. atau istilah nya belum ada US (unit sekolah)nya. Saya bersama dengan alumni yang sudah merasakan tarbiyah di kampus mencoba memasukan mentoring ini. awalnya kami (saya dan 4 orang yang lain) berusaha membuat kelompok – kelompok kecil terlebih dahulu. pendekatannya pun tidak langsung ke materi – materi, tapi lebih ke motivasi. dan Syukur alhamdulillah peminatnya juga cukup banyak awalnya hanya ada 2 kelompok laki – laki dan 1 kelompok perempuan namun dapat berkembang dan semakin banyak yang ikut serta. Alhamdulillah senang rasanya, semua seperti berjalan sempurna dan tanpa cela. seolah saya sudah melupakan kejadian beberapa bulan yang lalu ketika pengumuman SPMB itu. Namun jauh di dalam lubuk hati saya yang paling dalam (lebay mode : On), saya masih mengimpikan untuk bisa kuliah di ITB.

Rupanya Allah hendak menguji kesungguhan hati dari hambaNya, ditengah konflik kecil ini perasaan dan impian untuk kuliah di ITB, Allah munculkan. Keadaan ini semakin menjadi dari hari ke hari, ditambah dengan kondisi kampus yang tidak cukup kondusif. Pergaulan, life stylenya sungguh jauh dengan yang saya harapkan. Saya cukup merasa berat ditengah – tengah hingar bingar dunia kampus. Perbendaan tidak hanya dari pendapat tapi juga perbedaan idealisme. Saya ingin mendapatkan lingkungan yang lebih baik dan terjaga.  Dari sini saya mulai membanding – bandingkan, mulai mengandai – andai, ‘kalau saya begini..kalau saya begitu…. tentu lebih baik ini…’ pikir saya saat itu. saya yang merasakan lingkungan ITB jauh lebih membuat saya nyaman, lingkungan salman yang bergitu berpengaruh dalam ingatan saya, nuansa kehidupan scientist yang terbangun dalam lingkaran akademik ITB membuat saya mulai berpikir untuk mengikuti SPMB lagi untuk tahun depan. saya ingin pergi dari tempat itu, pergi jauh kalau perlu. maka dari sini saya membulatkan hati untuk bisa mengikuti SPMB lagi tahun depan. Sebenarnya ada satu lagi alasan yang tidak saya ungkap disini, khawatir terjadi fitnah.

Proses pengambilan keputusan berlangsung cukup lama. Banyak pertimbangan yang menjadi pemercepat maupun pelambat dari reaksi (katalis kalee…). Saya pun memberanikan diri untuk menyampaikan niatan saya untuk pindah kuliah ini pada kedua orang tua saya. Tantangan itu datang  seperti yang sudah saya duga sebelumnya, kalau orang tua pasti akan menentang keinginan saya ini. maklum mereka sudah keluar banyak uang dan tenaga untuk saya bisa kuliah. ‘Diskusi’
pun alot dan menemui jalan buntu. Saat itu Ayah sampai marah besar, sangat besar dan lama. Beliau begitu kecewa dengan saya, merasa gagal mendidik saya. Bahkan beliau merasa kerja kerasnya, pengorbanannya untuk bisa membayar uang kuliah saya sia – sia. Ibu pun bahkan hingga menangis mendengar ‘diskusi’ kami. sebenarnya ketika saya melihat ibu menangis, saya sempat terlintas untuk mengurungkan niatan saya ini mengingat pengorbanan orang tua yang bahkan sampai berhutang sana – sini. namun saya yakin Man jadda waa jadda, barang siapa yang bersungguh – sungguh pasti akan Allah bukakan jalannya. Lobi dan diskusi untuk memahamkan orang tua terus dilakukan dengan memberikan pengertian. Saat itu saya berusaha meyakinkan kedua orangtua bahwa keputusan saya pindah kuliah bukan emosi sesaat yang biasa terjadi pada anak muda seperti saya, tapi karena saya memang sungguh sungguh ingin berubah dan saya percaya bisa melakukannya. Saya percaya, bahwa saya mampu membuat mereka bangga di Institut Terbaik Bangsa. Wajar memang, jika mereka meragukan kemampuan akademik saya yang tidak lulus SPMB. Dan subhanallah akhirnya, hati orang tua Allah ‘lunakkan’. mereka mengijinkan untuk mengikuti kembali SPMB tahun depan dengan catatan, saya tidak ‘uring-uringan’ lagi untuk minta pindah. Ibu adalah yang pertama memberikan restu saya untuk bisa ikut ujian SPMB kembali. namun ayah saat itu masih tetap kekeh dengan pendapatnya, namun akhirnya dengan bujukan dari ibu, ayahpun dapat memberikan restunya. Ujian berikutnya juga dari lingkungan saya di kampus, mereka mencoba membujuk saya agar bisa tetap kuliah dikampus. mereka mencoba meyakinkan bahwa ‘lari’ itu bukan jawaban dari pemecahan masalah. namun saya yang keras kepala saat itu tetap ajeg dengan keputusan untuk keluar.

Keputusan itu sudah diambil,dan sekarang saya dihadapkan pada pilihan universitas yang nantinya akan dimasuki. tentu prioritas pertama adalah ITB yang memang sudah menjadi cita – cita sejak awal. dan yang kedua saya memilih IPB (Kayakna yang masukin nama lagi bolor matanya salah neken T jadi malah neken P…jadinya saya lulusnya di IPB bukan di ITB hehee…kidding O_0). ntar deh kapan – kapan saya ceritain kisah saya kenap bisa ‘tersesat’ milih IPB.

Untuk membalas kebaikan orang tua, hampir setiap hari disela – sela kuliah (yah sebagai bagian dari komitmen saya dengan ayah bahwa saya harus tetap kuliah minimal sampai tahun akademik berakhir) saya habiskan untuk belajar. Karena saat SMA saya tidak pernah sungguh sungguh belajar, maka untuk SPMB kali ini saya harus mempelajari semua pelajaran SMA dari awal.  Mulai dari matematika dasar, fisika, kimia dan juga bahasa indonesia. Tak Jarang ketika istirahat kuliah saya mengundang teman – teman dari jurusan fisikan dan kimia untuk membantu saya belajar, atau selepas kuliah saya yang mendatangi kosan mereka. pulang pun hingga pukul 9 malam, bagi saya tidak masalah itu adalah harga yang harus saya bayar atas keputusan saya.

Hari demi hari berlalu hingga setelah kurang lebih tujuh bulan yang dinanti, hari SPMB itupun datang. Ini adalah saat dimana  Allah menunjukan kebesaran dan kekuasaanNYA. Saat itu Allah seolah membuktikan kepada semua orang bahwa impian, kerja keras dan juga kepercayaan untuk bisa menggapai kehidupan yang lebih baik adalah alasan utama saya melakukan  perubahan dalam hidup. Berubahan dengan awal sebuah azam “ Man Jadda Wajadda”.  walaupun pada akhirnya Allah menghendaki saya tetap tidak lulus di ITB tapi di IPB, saya tetap bersyukur. Karena skenario Allah ini sangat indah…bahkan jauh lebih indah dari skenario yang dibuat oleh saya. Allah telah membuktikan ‘kasih sayangnya’ pada setiap hambaNya

Tepat ketika diumumkannya hasil SPMB, itulah pertama ayah menyapa dan memeluk saya sambil berkata , “ selamat anaku ayah bangga padamu”.

Sungguh.. kasih sayang orangtua tidak akan pernah habis oleh amarah.

4 thoughts on “Harga Sebuah Keputusan

  1. humaira ash shodiqoh 27 Januari 2011 / 6:09 AM

    Subhanallah perjuangannya… beda sekali dg “kemulusan” jalan saya menuju IPB…
    Hmmm,jd sebenarnya kak Imam (jd merasa g sopan dg angkatan atas..hehe) angkatan berapa seharusnya?

  2. imam.ks 27 Januari 2011 / 2:47 PM

    @humaira ash shodiqoh
    Hadoooh jgn panggil kak (berasa tua…hehe #gak nyadar diri mode:on), sebenarnya saya angkatan 2005 pernah ‘nyantri’ dulu setaun.

  3. deezeeka 27 Januari 2011 / 6:59 PM

    subhanallah, mam….
    ane baru tahu…
    kirain kisah siapa, ternyata kisah imaam…
    mam, coba dulu share ama deasy. *Whaahaha…
    jadi imam ini pernah kul di unpad toh? atau mau ngambil?
    yah, mam, ane juga ke IPB nggak ada perjuangannya sama sekali…mungkin itulah mengapa, akhirnya saya terdampar di sini =)
    well, sungguhpun dunia runtuh di hadapan, bukankah kita harus senantiasa berbaik sangka pada-Nya? Allah tahu apa yang terbaik bagi kita!

  4. imam.ks 28 Januari 2011 / 12:43 AM

    @deezeeka
    hei des..iyah dulu pernah ‘nyantri’ di unpad setaun..heuheu saya juga gak cerita ke banyak orang kalo dulu saya pernah di unpad, yang tau yah paling temen2 dekat saya aja..hehehe
    soalnya waktu itu mikirnya klo saya lebih seneng ngebangun ‘dunia’ baru di tempat yg baru ini.
    dan subbhanallah emang langkah ini memang udah Allah rancang sedemikian indah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s