Cinta itu Merah Saga Bung…!

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. [ QS. Ali imran : 110]

Sebenarnya ide awal saya nulis tulisan ini ketika saya berdiskusi soal ini dengan beberapa sahabat saya. Tema ini memang jadi bahan yang selalu menarik untuk dibahas, saya juga teringat ketika jaman saya masa – masa SMA dan kuliah, dimana temen – temen aktivis rohis saling tuker ledekan ( dan banyak yang ngeledek supaya bahas diledek … ) apalagi kalau bukan tema pernikahan.  bicara tentang hal ini maka kita berbicara juga tentang perasaan manusia yang sering hadir menyertainya, orang kebanyakan bilang itu cinta. Tapi saya sedang tidak ingin mendefinisikannya, jadi mari kita terima saja perasaan itu dinamai cinta.

Dari tulisan ini saya ingin memberi sebuah sudut pandang baru tentang dua hal ini, cinta dan pernikahan. bahwa dua  hal ini gak harus diinterpretasikan dengan hal – hal yang mendayu – dayu dan merayu (efek rumah kaca – cinta melulu) tapi mari kita membuka ruang untuk dua hal ini menjadi sesuatu yang ‘menyala’, sesuatu yang melahirkan semangat untuk mengubah dunia. Karena cinta itu merah saga bung…

Kok bisa? iya harus bisa lah. semuanya berawal dari niat.  Well, Innamal a’amalu binniyat… segala perbuatan itu bergantung pada niatnya. kita sudah sangat faham bahwa dalam pernikahan itu adalah ibadah, bahkan ada satu dalil yang menyebutkan bahwa nikah itu separuh dari agama. subhanallah, betapa luar biasanya jika hal sedahsyat ini juga dibingkai sebagai bagian dari perjuangan besar untuk merubah dunia. Tentu kita sudah sering mendengar kisah tentang tiga tukang batu  bukan? jadi diceritakan ada tiga orang tukang batu yang tengah bekerja menyiapkan ‘sesuatu’. Suatu hati mereka bertiga ditanya, “apa yang sedang kau lakukan ?”.

Tukang batu pertama menjawab, “saya sedang bekerja untuk menafkahi anak dan istri saya”. kemudian tukang batu kedua pun menjawab, “saya sedang membuat sekolah yang paling bagus seantero negeri “. dan tukang batu yang terakhir menjawab, ” Saya sedang membangun dunia”. lebih lanjut si tukang batu ketiga ini menjelaskan bahwa nantinya sekolah yang dia bangun ini akan menghasilkan – orang – orang cerdas yang akan membangun peradaban dunia menjadi lebih baik.

Subhanallah, dan ‘ajaib’ si bapak tukang batu ke tiga ini bekerja lebih cepat, lebih rapi, dan lebih sekatan dibanding ke dua tukang batu sebelumnya. maaf sekali, tak ada maksud saya mengurangi ketulusan niat tukang batu pertama dan kedua, namun dari sini kita dapat melihat bahwasanya ketinggian mimpi atau visi yang akan dicapai dapat menjadi katalisator seseorang untuk bisa bekerja dengan baik. begitupula dengan nikah maka ketika itu didorong oleh visi yang tinggi maka insya Allah kita akan selalu memiliki suluh semangat yang tak habis – habisnya. so nikah untuk mengubah dunia, siapa takut….

Muncul pula sebuah pertanyaan, ada apa dengan dunia sehingga harus diubah? toh hidup gini – gini aja kita masih bisa hidup, masih bisa makan enak, masih bisa shopping ke mall, dsb. Well, pren…Sekilas memang dunia seperti baik – baik saja, namun sesungguhnya saat ini dunia tengah terjadi krisis yang pelik, mulai dari krisis keuangan dan ekonomi, energi dan sumber daya alam, perubahan iklim, dan tentu saja degradasi moral. Saban hari generasi muda dunia muslim disajikan kehidupan yang penuh dengan seks bebas, pornografi, narkoba, dan gaya hidup hedonistic yang terus menerus dikampanyekan secara masif. Degradasi moral atas nama modernitas dan kebebasan yang dipuja – puji dunia sebagai gaya hidup modern ini telah mencuci otak sebagian dari kita, sehingga sangat mengherankan jika di jakarta orang beramai –  ramai membuka tubuh mereka, sedangkan di papua sana mereka beramai – ramai memakai pakaian yang tertutup, dan semuanya mengatas namakan modernitas. Penerus peradaban dunia ini harus diselamatkan teman…gaya hidup hedon dan materialis ini harus dihentikan. kita harus sama – sama bergerak memperbaiki kehidupan kita dan dunia.

Gaya hidup hedonis-materialis adalah representasi dari ketundukan manusia atas hawa nafsunya. Cinta telah disulap menjadi berhala nafsu yang mereka sembah, sehingga fitrah manusia ini ternodai  oleh hal – hal ini. Cinta yang Allah beri ini telah berganti menjadi hubungan tak halal antara pria dan wanita, bahkan naudzubillah menjadi pembenaran atas hubungan yang menyimpang seperti homo dan lesbi. Gaya hidup ‘yang penting enak’ meskipun harus mengorbankan orang lain ini lah biang kerok imperialisme dan penjajahan di dunia hingga sekarang.

Gaya hidup bebas ini ternyata telah menyebabkan hilangnya cinta dan kehangatan keluarga. Ada data dari The Economist edisi november 2007 [shofwan,2010], yang menyatakan bahwa jepang dan juga negara – negara industri maju lainnya sedang menghadapi masalah serius dengan tingkat kelahiran. Tingkat kelahiran tidak mencapai 2,1 per perempuan. ini artinya dalam jangka panjang negara – negara maju ini akan mengalami aging society. atau istilah gampangnya orang tua [tidak produktif] lebih banyak dari pada mereka yg produktif. apa hubungannya dengan gaya hidup bebas? ternyata hal ini berawal dari gaya mereka yg tidak mau repot dengan anak. nilai – nilai cinta dan keluarga telah lama hilang. Karena merka merasa kalau untuk memenuhi hasrat biologis cukup dgn seks semalam tanpa adanya pernikahan yang membuat repot.  Bersyukurlah kita orang indonesia masih bisa merasakan hangatnya keluarga dan nilai – nilai cinta. Dalam konteks ini maka menikah bisa menjadi sarana untuk mencegah lost generation.

untuk mencegah ini semua maka menikah menjadi penting dalam kamus kita. dengan menikah maka sesungguhnya kita telah menempatkan cinta pada singgasananya yang sebenarnya, dalam naungan Allah Ta’ala. Karena menikah ini proyek besar bagi perubahan dunia, sebagaimana dituliskan Hasan Al -Banna [seorang mujaadid abad ini] bahwa menikah adalah langkah kedua dalam memperbaiki peradaban.

Langkah pertama adalah perbaikan individu. melalui proses tarbiyah yang berkesinambungan mengembalikan manusia ke fitrah aslinya untuk bertakwa pada Allah Ta’ala. Langkah kedua adalah terbentuknya keluarga muslim. dari individu yang islami diharapkan akan terbangun rumah tangga islami.  Langkah ketiga adalah terbentuknya masyarakat yang baik. suasana rumah tangga yang baik, harmonis, tentu akan membawa efek ke masyarakatnya. bukankah masyarakat itu kumpulan dari keluarga-keluarga?. Langkah keempat adalah terbentuknya pemerintahan yang baik. shingga kita bisa mewujudkan satu cita – cita besar menjadi ustaziatul alam, menjadi guru bagi alam semesta.

Dari sini Hasan al banna menjelaskan bahwa langkah ke dua adalah menciptakan keluarga yang islami. so gak mungkin kan akan terbentuk keluarga yang islami tanpa menikah. sangking pentingnya juga ini jadi tanggung jawab sosial juga loh.. ” Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. 24 : 32].

Dan seperti saya bilang bahwa menikah adalah cara yang benar menempatkan cinta di singgasananya. Buat yang masih menunggu [kayak saya :)) ] maka jangan lupakan langkah pertama, tarbiyah untuk terus memperbaiki diri. Kalau mau dapet pasangan yang terbaik maka kita pun harus jadi yang terbaik dong. Kalau mau akhwat sekualitas aisyah maka kita harus sekualitas rasulullah… never ending improvement sehingga ketika sudah saatnya maka bersegeralah[insyaallah 2013 proyek ini akan tertunaikan, amiin]… Bagi yang sudah siap untuk maju ke langkah kedua [baca nikah] maka bersegeralah, namun ingatlah bahwa ini adalah proyek besar kita untuk peradaban maka, Niatnya harus baik, Caranya harus benar, dan Hasilnya insya Allah berkah. amiiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s