Cahaya di Ujung Malam

Itu malam yang sangat istimewa. saat Ibnu Abbas belajar tentang doa cahaya. Di ujung malam saat Rasulullah, gurunya yang paling mulia, bangun shalat dan melantunkan doa penyelimut diri yang sangat menakjubkan. Malam itu ia menginap di kediaman Rasulullah. Dan doa itu pun sampai pada kita hingga kini. Terus, dan akan seterusnya sampai pada umat Rasulullah hingga akhir zaman nanti.

“Ya Allah Jadikan di dalam hatiku Cahaya, pada pandanganku cahaya, pada pendengaranku cahaya, dan dari sisi kananku cahaya, dari sisi kiriku cahaya, dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya, dari depanku cahaya, dari belakangku cahaya, dan agungkanlah untukku cahaya”

Sepertiga malam terakhir justru bukan selaksa gelap. Tapi tempat sangat sempurna untuk bermandi cahaya. Bila di hati ada cahaya di seluruh anggota badan ada cahaya, dan dari seluruh penjuru arah ada cahaya, maka tak ada lagi hidup yang lebih nikmat dari menjadi seorang mukmin yang bermunajat di ujung malam.

Itulah sebabnya, ketika para salafusshalih ditanya, mengapa orang – orang yang terbiasa shalat malam wajah mereka tampak bercahaya, mereka menjawab, “Sebab mereka adalah orang – orang yang menyendiri dengan Allah Yang Maha Rahman, maka Allahpun melimpahkan kepada mereka cahaya-Nya. Maka itu tampaklah pada anggota badan mereka.” Itu adalah cahaya – cahaya yang menurut Imam Qurthubi akan bersinar secara fisik di hari kiamat nanti. sekaligus melengkapi pandangan Imam Nawawi, bahwa cahaya tersebut artinya bahwa anggota badan yang disebut di dalam doa itu akan selalu dalam lindungan Allah untuk tidak tergelincir dan menyimpang.

Bersyukurlah kita pada Allah karena siang. Dan bersyukurlah pula karena malam. Segala puji bagi Allah yang telah membagi hari – hari dalam putaran silih berganti. ” Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (Qs. Al-Hadid : 5-6).

Ini pasti tak sekedar gelap atau terang. ini bukan sekedar siklus jam pagi yang berakhir petang, atau jam petang yang berakhir di kala pagi menjelang. Bukan. Tapi pada pergiliran siang dan malam ada struktur kehidupan, bahkan ada struktur keimanan. Pada siang yang lapang kita diberi kesempatan untuk mencari karunia Allah, mengejar Rezeki-Nya yang halal. Berkarya. Berbuat. Mengisi hidup di segala penjuru bumi Allah yang terhampar luas. Lalu untuk semua itu Allah menyediakan malam untuk beristirahat. memberi kesempatan pada mata untuk terlelap. Tapi dalam garis – garis keimanan yang kita jalani bersama siang dan malam, Alloh membimbing kita untuk mengambil jalan keutamaan. “Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (Qs. Al- Insan:26). Tak seluruh malam, hanya sebagiannya. Allah menunjukan kepada kita tentang kemuliaan di akhri malam.

Akhir malam adalah saat yang tepat untuk kita bangun, menghadap Allah, menyampaikan maksud dan menghaturkan harap. Merengkuh kesempatan sangat berharga yang dijanjikan Allah secara sangat pasti.Rasulullah bersabda, “Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu sepertiga malam terakhir. Dia berfirman :” Siapa yang berdoa kepadaKu, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepadaKu, maka akan aku berikan. Siapa yang memohon ampun padaKu, maka akan Aku ampuni.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s