Totto chan : belajar tentang pendidikan holistic ala Jepang

Sudah lama saya tidak update blog ini, kangen juga sih. dan disela sela menulis thesis saya coba buat menulis lagi. kali ini tentang buku yang baru saja saya selesai membacanya, judulnya ‘Totto-chan: gadis di balik jendela’. sebenarnya pun saya tidak membeli buku ini secara khusus tapi minjem ke Tea (Sheila Nuraisha Hanif)..hehehe gak modal ya *hammer*. awal mulanya saya tertarik membaca buku ini juga karena baca resensinya dulu, dan seperti Tea bilang ini salah satu recommended book

Image

Buku ini sebenarnya semacam autobiography dari kisah nyata yang dialami penulisnya Tetsuko Kuroyanagi. buku ini berkisah tentang masa masa ia sekolah di Tomoe Gakuen, sebuah sekolah yg didirikan oleh tokoh pendidikan di Jepang. Sosaku kobayashi.

Toto-chan sendiri adalah tokoh utama dalam buku ini selain tentu saja kepala sekolah Tomoe Gakuen, Sosaku Kobayashi. Berformat (seperti) catatan harian dari sudut pandang orang ketiga, penulis berhasil menceritakan hampir detil dari kisah masa kecilnya. saya pribadi suka membaca buku ini, walau detil tapi tidak membosankan. Tetsuko berhasil mengemas cerita masa kecilnya menjadi sebuah perjalanan yang membawa pembaca untuk merasakan suasana jepang tahun 1940-an.

Totto Chan kecil adalah anak perempuan manis yang dikeluarkan dari sekolah karena dianggap “nakal”. Guru-guru di sekolahnya tidak menyukainya karena ia kerap membuat keributan di kelas dengan berdiri di jendela kelas kemudian memanggil-manggil para pemusik jalanan yang lewat dan Totto Chan mempunyai hobi membuka-menutup lacinya hingga beratus kali dalam sehari, ia melakukannya dengan cara membantingnya keras-keras. Kesabaran guru-guru itu mungkin sudah sampai pada puncaknya hingga mengeluarkan Totto Chan dari sekolah, padahal Totto Chan kecil hanya mempunyai rasa ingin tahu yang besar akan segala sesuatu. itu saja.

Beruntung Totto Chan memiliki seorang Ibu yang begitu memahami buah hatinya. Ibu mendaftarkan Totto Chan ke sekolah Tomoe Gakuen dan tidak mengatakan alasan apapun pada Totto Chan tentang kepindahan sekolahnya. Ibu hanya mengatakan bahwa ia memilih sekolah ini karena berfikir Totto Chan pasti akan suka bersekolah di Tomoe Gakuen, sekolah yang unik dan begitu memperhatikan kebutuhan anak-anak akan permainan dan pengetahuan.

Di hari pertama bersekolah Totto Chan diperkenalkan dengan Mr. Kobayashi kepala sekolah Tomoe Gakuen. Kepala Sekolah meminta kepada ibu Totto Chan untuk bisa berbicara berdua dengan anaknya. Bagi Totto Chan Mr. Kobayashi sangat menyenangkan, ia mau mendengarkan Totto Chan selama empat jam penuh tanpa rasa jenuh dan menunjukkan ketertarikannya atas apapun yang diceritakan oleh Totto Chan. Kepala Sekolah selalu menekankan kepada Totto Chan, “Kamu anak baik” , kata-kata inilah yang justru tertanam kokoh dalam diri Totto Chan, membangun kepercayaan dirinya hinga meraih kesuksesan besar di masa depannya. Dalam hati kepala sekolah juga merasa kagum pada Totto Chan yang mampu bercerita selama empat jam penuh tanpa sedikitpun lupa, lelah, dan kehabisan ide cerita.

Tomoe bukanlah sekolah legal-terdaftar di (semacam) Dinas Pendidikan- dan juga bukan sekolah yang menganut kurikulum konvensional. Semua sistemnya benar-benar berbeda. Di sekolah barunya ini, Totto Chan belajar dalam gerbong-gerbong kereta kosong yang dijadikan kelas, sangat menarik, karena anak-anak diajak belajar sambil menikmati “suasana” perjalanan yang mengasyikkan. Anak-anak juga diberikan kebebasan untuk memilih pelajaran apa yang ingin dipelajari terlebih dahulu, sesuai minat dan ketertarikan mereka. Dan banyak hal lain yang cukup menarik diterapkan dalam proses belajar mengajar di sekolah Tomoe Gakuen.

Di bagian hampir akhir, diceritakan kisah yang nuansa ceritanya berkebalikan dengan kisah-kisah sebelumnya. Terjadi beberapa kejadian menyedihkan, salah satunya adalah kematian salah seorang teman sekelas Totto-chan. pada akhir cerita juga dikisahkan bagiamana sekolah Tomoe ini hancur karena perang, dan Sosaku Kobayashi sebagai kepala sekolahnya berusaha untuk membangun kembali sekolah tersebut. Namun sayang hingga akhir hayatnya, beliau tidak dapat mewujudkan untuk dapat membangun Tomoe lagi.  Epilog dari buku ini juga menceritakan hasil dari pendidikan yang diterapakan di Tomoe Gakuen. Murid-murid Tomoe — teman sekelas Totto-chan – setelah dewasa, menjadi bukti nyata keberhasilan sistem pendidikan yang diterapkan di Tomoe. Semua menjadi apa yang mereka impikan semasa bersekolah di Tomoe Gakuen tercinta. Totto chan sendiri (Tetsuko Kuroyanagi) menjadi artist, penulis dan juga Duta Kemanusiaan UNICEF yang dilakukannya sejak tahun 1984  hingga tahun 1997.

Didalam buku ini mengenalkan saya dengan istilah baru “euritmik” yang artinya adalah olahraga yang menghaluskan mekanisme tubuh; olahraga yang mengajari otak cara menggunakan dan mengendalikan tubuh yaitu olahraga yang memungkinkan raga dan pikiran memahami irama. Mempraktikkan euritmik membuat kepribadian anak-anak bersifat ritmik : kuat, indah, selaras dengan alam, dan mematuhi hukum-hukumnya.

Buku Totto Chan sendiri banyak dijadikan referensi sebagai panduan bagaimana memberikan pendidikan yang baik bagi anak. dari buku ini setidaknya kita bisa belajar tentang pendidikan holistic bagi anak – anak kita, yang membangun tidak hanya otaknya saja tapi juga kepribadiannya sesuai dengan karakter meraka masing – masing. so, selamat membaca buku ini.

Special Thanks to Sheila Nuraisha Hanif (Tea).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s